5 Hal yang Tak Bisa Ditawar

KedatanganSaya bertemu dengan seorang bapak berusia 35 tahun di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ia Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah kementerian. Kami sama-sama akan menjemput seseorang dan duduk-duduk di kursi tunggu bandara. Perkenalan singkat itu membuat saya tahu, seorang bapak dengan 4 anak ini sedang menabung untuk menyiapkan keuangan masa depan keluarganya.

Lalu saya tanya, “Bapak sudah berapa lama menabung? Berapa per bulannya?”

“Saya menyisihkan uang setiap bulan, 1 juta rupiah dan sekarang sudah 8 tahun berjalan. Uang ini tidak diganggu oleh biaya yang lain,” katanya.

“Kalau begitu, Bapak sudah mengumpulkan uang sebesar 96 juta?”

“Ya. Saya bersyukur, sudah mencapai itu. Sekarang saya tidak terlalu khawatir dengan masa depan anak-anak.”

“Maaf, Bapak pensiun di usia berapa?”

“Lima puluh enam tahun,” jawabnya.

Setelah beberapa saat saya operasikan kalkulator ponsel, saya kembali berkata, “Berarti sekitar 21 tahun lagi Bapak baru pensiun ya? Kalau dikalkulasi, tabungan Bapak pada usia pensiun sekitar 252 juta ditambah 96 juta, menjadi 348 juta rupiah.”

“Betul. Dengan uang itu, saya bisa lebih tenang lah, Mas,” katanya sambil tersenyum merendah.

“Maaf sekali lagi, apakah dengan itu Bapak sudah benar-benar tenang?” tanya saya lagi, sepintas mirip wartawan atau peneliti sosial.

“Hmm… Saya kira, saya tenang dengan uang itu. Jumlahnya cukup besar kan?”

“Memang cukup besar, Pak, kalau disetarakan dengan nilai uang sekarang. Tapi 21 tahun kemudian, kemungkinan nilainya menjadi kecil karena ada inflasi.”

Bapak berpembawaan kalem ini tertegun sejenak. Lalu, saya kembali menjelaskan mengenai inflasi. Misalnya begini. Dulu, uang 10 ribu rupiah itu bisa dibelanjakan untuk 3 porsi Mie Baso, tapi sekarang hanya cukup untuk membayar satu mangkuk saja. Ia terlihat mulai mengerti bahwa memang nilai uang menjadi semakin kecil pada waktu mendatang.

“Mohon maaf sebelumnya ya, Pak. Lalu, kalau sebelum pensiun itu terjadi sesuatu yang tak diinginkan, misalnya sakit berat dan sebagainya bagaimana?”

“Ya, mudah-mudah saja tidak terjadi, Mas. Saya sendiri sekarang selalu menjaga kesehatan dengan baik,” katanya sambil tersenyum.

“Ya. Itu sangat baik. Tapi maaf sekali lagi, Pak. Apakah seseorang bisa kebal terhadap sakit kritis, kecelekaan, cacat total, meninggal, atau tua?”

“Hmm… Tidak ya.”

“Lalu, apakah kita bisa memilih lima kemungkinan pahit itu, misalnya kita pengen sakit flu saja, begitu?”

“Tidak bisa.”

“Apakah kita juga bisa tahu kapan terjadinya lima hal itu?”

“Hanya Tuhan yang tahu, saya kira.”

“Nah, jika terjadi, apakah kita butuh uang tidak untuk menanganinya?”

“Tentu saja butuh, Mas. Kalau terjadi sakit berat, saya kira uang yang dibutuhkan pun akan besar.”

“Sekarang, apakah kita sudah menyiapkan uangnya? Misalnya, uang tabungan Bapak sudah mencapai 100 juta dan Bapak mengalami sakit berat seperti itu? Apakah cukup?”

“Terus, gimana dong, Mas?”

“Nah, begini solusinya, Pak.”

Singkat cerita, saya mengilustrasikan ke dalam Tapro (Tabungan dan Proteksi) di asuransi Allianz. Karena orientasi beliau menabung, dari premi 1 juta rupiah itu saya bagi menjadi dua: 700 ribu rupiah untuk asuransi dan 300 ribu rupiah untuk investasinya (TopUp). Nah, dengan skema seperti itu, beliau sudah menyiapkan perlindungan untuk dirinya dan bahkan bisa diwariskan untuk perlindungan jiwa dan nilai investasinya.

Pertama, untuk sakit kritis ditanggung sebesar 500 juta rupiah, sebelum mencapai usia 70 tahun. Kedua, untuk kecelakaan akan ditanggung sebesar 500 juta, sebelum mencapai usia 65 tahun. Ketiga, untuk cacat total akan ditanggung sebesar 500 juta rupiah, sebelum mencapai usia 65 tahun, dan jika terjadi cacat total dalam masa pembayaran premi, beliau tidak perlu lagi membayar premi karena akan ditanggung oleh perusahaan. Keempat, jika terjadi meninggal dunia, maka akan ditanggung sebesar 500 juta rupiah, sebelum mencapai usia 100 tahun, dan jika meninggal dalam masa pertanggungan, maka 500 juta ditambah nilai investasi akan dibayarkan sekaligus. Dan ini dijamin, karena klausulnya jelas dan berkekuatan hukum.

Lalu, saya tanya kembali, “Menurut Bapak, ini bagus tidak?”

“Wah, bagus banget mas. Saya mau dong nabung di Tapro.”[]

Ilustrasinya Tapro:

Tn Nasabah1

Ringkasannya begini:

Tn Nasabah2

Jika Anda memerlukan asuransi jiwa, jangan sungkan untuk menghubungi kami.

DEDE SULAEMAN
Business Executive
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Perencanaan Keuangan dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke 5 Hal yang Tak Bisa Ditawar

  1. Ping balik: 5 Hal yang Tak Bisa Ditawar | Asuransi Allianz Life Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s