Pilih Proteksi yang Paling Prioritas

prioritasBeberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan seorang calon nasabah (sekarang sudah jadi nasabah). Dalam perkenalan singkat, kami banyak berbincang mengenai perencanaan keuangan yang mesti disiapkan untuk kepala keluarga. Saya sangat senang mengobrol banyak hal di rumahnya sampai larut.

Rasa senang saya karena ia seorang yang sangat teliti dan selalu mendetail dengan banyak hal, termasuk soal rencana proteksi yang akan ia ambil dari program kami. Tak cukup semalam, ia meminta saya untuk datang kembali ke rumahnya pada pekan berikutnya dan berikutnya lagi. Jadi, kami bertemu dalam tiga pertemuan. Sebelum pertemuan pertama, dalam pesan sms, dia mengatakan, “Saya tidak janji mau ambil program proteksi dari Bapak ya.”

Saya katakan, “Ketika saya sudah sampai di rumah dan duduk di ruang tamu Bapak, silakan Bapak bertanya tentang apa saja yang menyangkut progam kami dan Bapak boleh memutuskan dengan hati yang merdeka.” Kepala keluarga yang masih berusia 31 tahun ini mengirimkan pesan simbol senyuman. Sesuai waktu yang ditentukan, kami bertemu pada malam itu.

“Saya membutuhkan proteksi asuransi untuk saya dan keluarga. Apa ya program yang cocok?” tanyanya pada pertemuan pertama kami.

“Perlu saya jelaskan, proteksi paling prioritas yang perlu diambil oleh kepala keluarga adalah proteksi jiwa (asuransi dasar) dan proteksi sakit kritis (CI100),” jawab saya singkat.

“Lho, bukannya proteksi kesehatan (Askes) itu juga penting?” sanggahnya.

“Tepat sekali. Asuransi kesehatan atau askes itu penting, tapi bukan prioritas bagi kepala keluarga.”

“Kok bisa?”

“Boleh saya bertanya, bagaimana kalau seorang kepala keluarga seperti Bapak sakit semisal DBD dan dirawat di Rumah Sakit, apakah memerlukan biaya yang besar?” tanya saya.

“Ya. Sekarang biaya rawat inap cukup besar. Karena itu menurut saya Askes itu sangat penting.”

“Nah, kira-kira berapa biaya rawat inap untuk beberapa hari?”

“Hmm… Mungkin mencapai 20 juta,” jawabnya.

“Ya, itu cukup besar. Menurut Bapak, kalau seorang kepala keluarga tidak punya Askes dan dia dirawat dengan biaya sebesar itu, kira-kira mampu tidak?”

“Ada yang mampu, ada yang keberatan.”

“Kalau Bapak, kira-kira mampu?”

“Saya rasa saya mampu. Tapi, kalau punya askes kan lebih enak,” katanya.

“Kembali ke soal prioritas,” lanjut saya, “kalau seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis, misalnya kanker atau stroke, menurut Bapak, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk berobat?” tanya saya lagi.

“Saya tidak tahu pasti. Tapi pastinya besar lah, Pak.” Dia tersenyum.

“Menurut Bapak, berapa kira-kira?”

“Kalau berobat terus menerus, mungkin perlu uang 500 juta atau lebih,” jawabnya.

“Tentu kita berharap dan memohon kepada Tuhan untuk dijauhkan dari penyakit berat. Tapi, jika seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis dan ia ingin sembuh, apakah yang harus dilakukan?”

“Berobat. Ambil tabungan,” jawabnya singkat.

“Kalau masih kurang?”

“Jual aset.”

“Kalau masih kurang?”

“Pinjam ke famili atau teman.”

“Kira-kira susah tidak meminjam uang besar ke famili atau teman?”

“Hmm…” Pria muda murah senyum ini benar-benar tersenyum dan saya pun ikut tersenyum.

“Lalu, kalau seorang kepala keluarga terdiagnosa sakit kritis, apakah ia masih bisa bekerja?”

“Bagaimana mungkin,” jawabnya.

“Terus, siapa yang akan membiayai hidup sehari-hari istri dan anak-anaknya?” tanya saya.

“Mungkin ia akan kembali ke orangtuanya, tapi saya rasa akan berat,” katanya.

“Program kami, kalau nasabah mengalami sesuatu yang tidak diinginkan seperti yang kita bicarakan, perusahaan kami akan menyiapkan uang tunai sebesar yang tercantum dalam kontrak,” jelas saya.

“Sekarang saya setuju dengan Bapak. Proteksi sakit kritis dan jiwa prioritas buat saya.”

Obrolan pun berlanjut. Kami sudah menghabiskan secangkir kopi dan jagung rebus yang disajikan istrinya. Waktu hampir mendekati pukul 10 malam. Sementara istri dan anak-anaknya pamit untuk beristirahat, saya melanjutkan obrolan yang asyik mengenai topik-topik lain seputar politik.

Ringkas cerita, pada pertemuan ketiga kami, ia mantap mengambil program proteksi Allisya Protection Plus dengan memaksimalkan proteksi dan tidak mengambil Askes. Dengan premi per bulan 800 ribu rupiah, total UP-nya 2,5 M.

Berikut ilustrasi ringkasnya:

Ilustrasi Nasabah 1

Jika Anda ingin menyiapkan proteksi di Tapro Allisya, jangan sungkan untuk menghubungi kami.

DEDE SULAEMAN
Business Executive
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Perencanaan Keuangan dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pilih Proteksi yang Paling Prioritas

  1. Asep Sopyan berkata:

    Cerita yang bagus, Pakde. Semoga makin banyak orang yang sadar betapa beratnya penyakit kritis kalau ditanggung sendiri atau hanya mengandalkan asuransi kesehatan.

  2. Ping balik: Pilih proteksi yang paling Prioritas | EstriHeni.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s