Suami Saya Anti Asuransi

Ilustrasi Buku PolisBanyak hal yang menjadi bahan pertimbangan seseorang mengambil asuransi dan banyak pula alasan seseorang menolak membeli polis asuransi. Sebagian besarnya tidak mengungkapkan alasan yang jelas, kenapa ia menolak.

Nasabah saya seorang ibu muda sedang dalam proses mengambil program asuransi kepada saya. Di sela-sela pengisian surat permohonan asuransi, saya bertanya, “Bu, suami sudah punya asuransi jiwa?”

Sambil tersenyum ia mengatakan, “Wah, suami saya mah anti asuransi, Pak.”

“Begitu ya.” Saya pun ikut senyum, dan kemudian berusaha serius.

“Begitulah, Pak. Suami saya bilang, kalau kita dipanggil Tuhan duluan, yakin saja Tuhan akan memberi rezeki orang yang ditinggilkan.”

“Maaf, Bu, semoga tidak menyinggung perasaan, Ibu masih ada cicilan-cicilan yang harus dibayar dalam jangka panjang?” tanya saya.

“Masih ada sih, Pak. Itu yang membuat saya sadar, nanti kalau penanggung beban keluarga ini dipanggil Tuhan duluan atau kena sakit berat, bagaimana cicilan-cicilan utang ini?” katanya.

“Jadi, menurut ibu, lebih baik mana, mempersiapkan diri sebelum risiko berat datang dengan membeli asuransi atau membiarkan risiko datang dengan tanpa persiapan apa-apa?”

“Ya, pilih beli asuransi lah, Pak. Selain preminya bisa dicicil, proteksinya sudah bisa berlaku tanpa menunggu lama,” katanya.

“Saya kepengen sih, suami saya punya polis, setidaknya asuransi jiwa saja,” katanya lagi. “Bisa tidak, Pak, saya daftarkan asuransi jiwa untuk suami, tapi saya yang tanda tangan dan saya yang bayar premi per bulannya?”

“Sayang sekali, Bu. Mendaftar asuransi harus membubuhkan tanda tangan calon tertanggung (peserta). Jadi, sebaiknya dibicarakan lagi saja dengan suami secara baik-baik, sampai suami paham mengenai pentingnya asuransi bagi keluarga.”

“Oh, iya deh, Pak. Nanti saya bujuk-bujuk lagi suami.”

Demikian obrolan saya dengan seorang ibu muda yang sudah menyadari pentingnya asuransi untuk memberi solusi bagi dampak keuangan yang diakibatkan oleh datangnya risiko berat.

Mengenai ini, Wira Arjuna (Agen Asuransi Nggak Kaya, Ngapain AJa?, 2012) juga pernah menulis satu cerita menarik yang mirip dengan cerita saya, dalam bukunya.

Berikut petikan cerita utuhnya yang dituturkan Wira Arjuna.

Salah seorang nasabah agen saya adalah seorang ibu yang menjabat sebagai manajer salah satu perusahaan di Cempaka Putih, Jakarta. Awalnya dia agak tertarik dan meminta dibuatkan proposalnya.

Akan tetapi ketika agen saya datang untuk memastikan lagi, dia menolak keras. Setelah ditanya-tanya terus, ternyata suaminya sangat menentang dan marah ketika dia mengutarakan akan masuk asuransi.

Setiap lewat daerah sekitar Cempaka Putih, agen saya selalu mampir sambil menjelaskan dengan sabar dan perlahan-lahan gunanya asuransi unit link. Enam bulan kemudian ternyata ibu itu ikut (tapi jangan sampai suami saya tahu, ya, pintanya). Setelah saya tanya kenapa akhirnya masuk, dia menjawab, “Saya tidak enak sama kamu, tapi saya juga lihat tidak ada salahnya masuk.”

Setahun kemudian ketika lewat rumahnya di Bekasi, saya kaget ketika tahu bahwa nasabah saya itu meninggal dunia karena kecelakaan. Ketika saya beri tahu suaminya bahwa istrinya punya polis, awalnya dia marah.

Akan tetapi ketika saya beritahu pelan-pelan, akhirnya dia menyerah. “Di rumah tidak ada polis,” katanya menjelaskan setelah mencobanya mencari di semua lemari, meja, dan rak. “Mungkin di meja kantor, Pak.”

Benar, polis itu tersimpan rapi dan kayaknya tidak pernah dibuka. Setelah saya urus, akhirnya santunan sebesar Rp. 900 juta pun cair karena nasabah meninggal akibat kecelakaan.

Dipeluknya kedua anaknya. Dengan gemetar dan menangis suami nasabah saya itu mengatakan, “Inilah mamamu. Inilah mamamu! Luar biasa mama kamu. Mau meninggalkan kita juga masih sempat-sempatnya meninggalkan sesuatu yang hebat.”

Di depan kedua anaknya Bapak tersebut mengatakan, “Pak, Rp. 600 juta masukan lagi atas nama kedua anak saya ini. Sisanya saya belikan tanah di kampungnya untuk didirikan masjid yang selalu menjadi cita-citanya.”

Dua cerita ini menarik untuk direnungkan, sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa alasan untuk mengambil asuransi jiwa sudah cukup kuat, dan bahkan akan lebih baik lagi dengan mengambil asuransi tambahannya (rider) sakit kritis, untuk memproteksi dampak finansial bagi keluarga ketika risiko berat itu datang menghampiri kita dan keluarga.

Dengan demikian, kita menjadi orang yang bijaksana dalam menghadapai dua persoalan hidup yang bisa memengaruhi kondisi keluarga: sakit kritis, dengan menyiapkan proteksinya dan ketika ajal menjemput, dengan menyiapkan warisan yang besar untuk keluarga yang ditinggalkan.[]

Dede Sulaeman
Bussines Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dari Nasabah dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s