Asuransi Syariah, Asuransi Tolong Menolong

Asuransi Tolong MenolongKhususnya umat Islam, selalu peduli dengan kehalalan sebuah produk, apakah itu makanan, jasa, maupun keuangan, termasuk produk asuransi. Sebab, halal menjadi hal mendasar bagi umat Islam dalam melakukan aktivitas sosialnya.

Meski memiliki label syariah, asuransi syariah belum banyak dipahami secara benar. Karena itu, penulis ingin menjelaskan asuransi syariah untuk memupus keraguan.

Asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ (dana kebajikan) untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Di sini ada unsur dana yang berasal dari sejumlah orang/pihak (para peserta) yang dikelola untuk saling melindungi dan tolong menolong. Dengan konsep ini, maka asuransi syariah mampu mengikis tiga unsur haram dalam asuransi.

Yaitu gharar (ketidakpastian terhadap objek penjualan, waktu penyerahan, dan berapa lama harus membayar premi), riba (investasi pada premi dan uang pertanggungan), dan maysir (perjudian – ada pihak yang diuntungkan, ada pihak yang dirugikan).

Dengan konsep tolong menolong, maka asuransi syariah mampu menghilangkan tiga unsur haram dalam transaksinya. Selain itu, investasi dalam asuransi unitlink syariah pun terkontrol kehalalan semua transaksinya, sesuai syariah.

Dalam asuransi kesehatan tradisional, misalnya Allisya Care, ada dua unsur biaya yang bersumber dari premi yang disetorkan oleh para peserta, yaitu dana tabarru’ (dana kebajikan, untuk tolong menolong jika di antara peserta ada yang mengalami risiko) sebanyak 65% dan ujrah (imbal jasa pengelolaan, termasuk cetak polis, komisi agen, dll) 35%.

Sementara dalam asuransi unitlink syariah, ada tiga unsur biaya, yaitu biaya akuisisi (untuk ATK, surat menyurat, cetak polis, komisi agen) yang menjadi hak perusahaan asuransi sebagai imbal jasa pengelolaan, tabarru’ (dana kebajikan), dan investasi (yang dialokasikan ke dalam instrumen investasi syariah).

Karakteristik Asuransi Syariah

Dalam pengelolaan dananya, asuransi syariah memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan asuransi non syariah. Dana tabarru’ dan investasi dikelola sesuai dengan konsep syariah.

Tabarru’ digunakan untuk saling tolong menolong dan investasi ditanam di instrument investasi syariah yang terbebas dari unsur-unsur haram dalam transaksi keuangannya.

Karena itu, ada dua unsur yang memiliki karakteristik asuransi syariah di sini.

Pertama, Dana Tabarru’ Asuransi Syariah. Iuran/tabarru’ dari para peserta dikumpulkan dan diniatkan untuk saling tolong menolong, ketika ada di antara peserta ada yang mengalami risiko.

Maknanya, di sini risiko yang harus ditanggung dibebankan kepada para peserta yang tidak mengalami risiko, dengan konsep tolong menolong (risk sharing).

Kedua, dana yang dialokasikan ke dalam instrumen investasi syariah. Dalam hal ini, dana dialokasikan ke dalam instrumen investasi syariah.

Instrumen investasi syariah di Indonesia yang sudah ada dan menjadi outlet investasi bagi asuransi syariah, sebagaimana dijelaskan dalam buku Asuransi Syariah (Life and General), Konsep dan Operasional (Muhammad Syakir Sula, 2004: 380), yaitu:

  • Investasi ke bank-bank umum syariah, seperti Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM).
  • Investasi ke bank umum yang memiliki cabang syariah, seperti BNI Syariah, BRI Syariah, BII Syariah, Danamon Syariah, Bank IFI Syariah, Bukopin Syariah, dll.
  • Investasi ke Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT).
  • Investasi langsung ke perusahaan-perusahaan yang tidak menjual barang-barang haram atau maksiat dengan sistem (akad) mudharabah, wakalah, dan wadi’ah.
  • Investasi ke lembaga keuangan syariah lainnya, seperti reksadana syariah, modal ventura syariah, leasing syariah, pegadaian syariah, obligasi syariah di Bursa Efek Jakarta (BEJ), koperasi syariah, dan sebagainya. Lebih rinci, baca juga: Instrumen Investasi Asuransi Syariah.

Kesimpulan

Pendek kata, dana tabarru’ dan investasi yang terkumpul itu kemudian dititip-kelolakan kepada perusahaan asuransi yang memang sudah professional di bidang ini dan diawasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN).

Perusahaan asuransi diberikan upah (ujrah/biaya akuisisi) sebagai imbal jasa pengelolaan dana para peserta tersebut. Dengan demikian, akad yang digunakan di sini adalah wakalah bil ujrah.

Demikian, sehingga asuransi syariah terbebas dari unsur-unsur haram dalam transaksinya. Dan setiap peserta atau nasabah yang mengambil asuransi syariah menyediakan diri dengan ikhlas untuk saling melindungi dan tolong menolong. Demikian.[]

Dede Sulaeman
Bussines Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s