Instrumen Investasi Asuransi Syariah

Pasar Modal SyariahOleh karena pengelolaan asuransi unitlink dalam asuransi diserahkan kepada perusahaan asuransi dan nasabah terima beres saja, banyak nasabah yang mengambil produk unitlink tidak tahu ke mana dana investasinya dikelolakan. Sehingga bagi orang yang peduli dengan konsep kehalalan, menjadi ragu apakah dana investasinya halal atau haram.

Untuk memupus keraguan itu, berikut dijelaskan secara rinci mengenai instrumen investasi asuransi syariah, khususnya di Indonesia. Penjelasan ini diambil dari buku Asuransi Syariah (Life and General), Konsep dan Operasional (Muhammad Syakir Sula, 2004: 380-384).

Di Indonesia, instrumen investasi syariah yang sudah ada dan menjadi outlet investasi bagi asuransi syariah, yaitu:

  • Investasi ke bank-bank umum syariah, seperti Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM).
  • Investasi ke bank umum yang memiliki cabang syariah, seperti BNI Syariah, BRI Syariah, BII Syariah, Danamon Syariah, Bank IFI Syariah, Bukopin Syariah, dll.
  • Investasi ke Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT).
  • Investasi langsung ke perusahaan-perusahaan yang tidak menjual barang-barang haram atau maksiat dengan sistem (akad) mudharabah, wakalah, dan wadi’ah.
  • Investasi ke lembaga keuangan syariah lainnya, seperti reksadana syariah, modal ventura syariah, leasing syariah, pegadaian syariah, obligasi syariah di Bursa Efek Jakarta (BEJ), koperasi syariah, dan sebagainya.

Beberapa jenis Investasi Syariah yang saat ini diimplementasikan di perusahaan asuransi syariah di Indonesia (Nurmansyah Lubis, 2004, dalam Muhammad Sakir Sula, 2004), di antaranya sebagai berikut.

Pertama, Deposito Mudharabah

  • Investasi yang dilakukan pada bank syariah dengan menanamkan dalam bentuk dana tunai untuk jangka waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, dengan nisbah tertentu.
  • Investasi Deposito Mudharabah dapat dilakukan pada BMI, BSM, IFI Syariah, Jabar Syariah, BRIS, Bukopin Syariah, BIIS.

 

Deposito bank syariah jangka waktu 1 tahun Nisbah Eqivalen Rate
BMI 75 11,05%
BSM 65 10,18%
IFI Syariah 57 13,22%
Jabar Syariah 55   7,08%
BRIS 62   8,94%
Bukopin Syariah 68   9,00%
BIIS 61 10,11%

Perbandingan bagi hasil antara bank syariah (Agustus 2003)

Kedua, Obligasi Syariah

  • Investasi yang dilakukan dengan membeli obligasi syariah yang diterbitkan oleh bank syariah dengan nisbah tertentu, misalnya membeli Obligasi Syariah Subordinasi.
  • Obligasi Syariah Subordinasi merupakan kontrak obligasi dituangkan dalam perjanjian perwaliamanatan dengan rasio bagi hasil dengan nisbah tetap.
  • Investasi Obligasi Syariah dapat dilakukan atas obligasi syariah yang dikeluarkan oleh:
  1. Obligasi Bank Muammalah Syariah Subordinasi tahun 2003 (BBB Minus);
  2. Obligasi Bank Mandiri Syariah Mudharabah tahun 2003 (BBB);
  3. Berlian Laju Tanker Syariah Mudharabah tahun 2003 (A Minus);
  4. Indosat Syariah Mudharabah tahun 2002 (AA Plus).

Ketiga, Reksadana Syariah

  • Reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai shahibul mal dengan manajer investasi sebagai wakil shahibul mal, maupun antara manajer investasi sebagai wakil shahibul mal dengan pengguna investasi.
  • Investasi dapat dilakukan dengan membeli reksadana syariah yang diterbitkan oleh reksadana Syariah Berimang, PNM-IM, Batasa Capital.
  • Reksadana campuran dengan NAB (memperoleh pertumbuhan nilai investasi optimal dalam jangka panjang dengan melakukan investasi pada efek ekuitas, efek utang, dan instrumen pasar uang dari perusahaan-perusahaan yang kegiatan usaha dan hasil usahanya sesuai dengan syariah Islam).

Keempat, Saham. Investasi yang dilakukan dengan membeli saham-saham blue chip di Bursa Efek Jakarta.

Kelima, Penyertaan Langsung. Investasi yang dilakukan dengan melakukan penyertaan langsung pada perusahaan yang secara analisis studi kelayakan menguntungkan.

Keenam, Bangunan. Investasi yang dilakukan dengan cara membeli aktiva tetap berupa gedung, kemudian menyewakan dengan maksud akan mendapatkan yield yang menguntungkan.

Ketujuh, Pembiayaan Mudharabah. Investasi yang dilakukan dengan akad kerja sama usaha antara shahibul mal dan mudharib dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di muka.

Kedelapan, Pembiayaan Bai Bithaman Ajil. Investasi yang dilakukan akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

Kesembilan, Hipotik. Investasi yang dilakukan dengan memberikan pinjaman dalam bentuk hipotik untuk pembiayaan kendaraan bermotor dan rumah.

 

Referensi:

Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (Life and General), Konsep dan Sistem Operasional, Gema Insani, Jakarta, 2004.

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s