Sudah Punya BPJS, Perlukah Ambil Asuransi Kesehatan?

GambarBeberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang suami muda yang bekerja di salah satu perusahaan industri manufaktur di Cikarang, Bekasi. Ia mengaku sudah punya asuransi kesehatan BPJS dari kantornya. Hanya saja, ia merasa ingin mengambil asuransi kesehatan lagi dari perusahaan asuransi swasta.

“Saya sudah punya BPJS dari kantor. Saya ingin mengambil lagi asuransi kesehatan rawat inap,” katanya.

Saya diam sebentar. Karena saya sendiri mengambil BPJS kesehatan untuk asuransi rumah sakit saya.

“Sejauh pengalaman Bapak, pelayanan BPJS kesehatan bagus tidak?”

“Lumayan sih Pak,” katanya lagi.

“Lalu, apa yang membuat Bapak berpikir untuk mengambil asuransi kesehatan lagi di perusahaan swasta?”

“Kata orang-orang pelayanan asuransi kesehatan swasta lebih bagus.”

“Betul Pak. Tapi premi yang ditetapkan jauh lebih mahal,” jawab saya.

Lalu, saya perlihatkan ilustrasi asuransi kesehatan melalui Asis berdasarkan usia yang bersangkutan.

“Wah, besar juga ya, Pak.” Ia tersenyum dan saya juga.

Suami muda ini melanjutkan. “Terus, Bapak sendiri ambil asuransi apa?”

Saya tahu ia sedang menyelidik. “Saya juga ambil BPJS kesehatan untuk saya dan keluarga. Dan saya sebagai kepala keluarga mengambil polis asuransi yang prioritas di Allianz.”

“Maksud Bapak, asuransi prioritas?”

“Bagi seorang yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, asuransi prioritas yang harus diambil adalah asuansi jiwa dan sakit kritis (critical illness), dengan uang pertanggungan besar.”

“Kenapa begitu?”

“Sebab, selama masih produktif, tulang punggung keluarga adalah aset yang harus di-backup dengan asuransi jiwa dan sakit kritis.”

Lalu saya tanya, “Nah, menurut Bapak kondisi apa yang bisa membuat seseorang tidak lagi produktif?”

“Pensiun.”

“Betul. Sakit kritis atau sakit berat, bisa?”

“Ya. Betul juga ya, Pak. Kalau sakit kritisnya terjadi sebelum pensiun bagaimana ya? He..”

Ringkas cerita, saya ilustrasikan ia dalam program Tapro Allisya dengan pertanggungan asuransi jiwa, sakit kritis (CI100 Syariah), kecelakaan (ADDB), dan cacat tetap total (TPD), sesuai dengan anggaran yang ia sanggupi. Berikut ilustrasinya:
Ilustrasi utk artikel

Sebetulnya, tidak ada larangan bagi siapa pun yang sudah punya BPJS untuk mengambil asuransi rawat inap di perusahaan asuransi swasta. Asalkan ada dana yang bisa dianggarkan, silakan.

Walaupun mungkin, punya dua asuransi rawat inap akan mubazir. Lebih baik anggaran tersebut dimaksimalkan di asuransi yang menanggung jiwa dan sakit kritis. Demikian.[]

Dede Sulaeman
Business Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Cerita dari Nasabah dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s