Cara Terbaik Backup Dana Pendidikan Anak

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS An-Nisa [4]: 9)

Generasi TerbaikSalah satu cara menyiapkan generasi yang kuat, yaitu memberikan pendidikan yang baik dan cara terbaik menyiapkan pendidikan saat ini adalah melalui asuransi. Pernyataan ini boleh jadi tidak sepenuhnya benar.

Di sini penulis hanya ingin menyampaikan beberapa alasan kenapa asuransi bisa digunakan sebagai cara mudah menyiapkan dana pendidikan sehingga diharapkan mampu mencetak generasi yang kuat.

Dalam konteks Islam, menyiapkan generasi yang kuat merupakan perintah yang harus diupayakan oleh setiap orangtua. Yang dimaksud generasi kuat adalah generasi yang saleh dan salehah (taat kepada Allah dan Rasul-Nya), kuat secara fisik, sehat, cerdas, dan berkecukupan dalam harta (Agar Harta Berkah dan Bertambah, Didin Hafidhuddin, 2007: 40).

Mencetak generasi yang kuat tidak melulu soal harta kekayaan. Pendidikan yang dibentuk dengan teladan kesalehan keluarga dengan bimbingan kedua orangtua menjadi landasan utama bagi terbentuknya generasi yang kuat.

Karena itu, teladan ibu dan ayah menjadi kata kunci dalam membentuk generasi saleh dan cerdas. Banyak tokoh muslim yang lahir dari pendidikan keluarga yang kuat. Namun, dunia telah berubah. Tidak banyak keluarga yang mampu menyediakan pendidikan keluarga sehebat zaman dulu.

Sekarang, pendidikan yang hebat malah ada di lembaga-lembaga dengan biaya pendidikan yang mahal, bahkan bagi sebagian orang sangat mahal.

Karena itu, selain faktor pendidikan di dalam keluarga, ada faktor lain yang cukup penting yang akan mampu menyiapkan generasi kuat, yaitu harta atau uang. Sebab, salah satu instrumen di zaman ini untuk membentuk generasi yang kuat adalah uang.

Kenapa uang? Saat ini faktor uang sama sekali tidak bisa dihindari. Semua memerlukan uang, termasuk pendidikan. Lembaga pendidikan yang menampung anak didik untuk digembleng dalam sebuah kurikulum, mewajibkan semua orangtua untuk menyetor uang sebagai upah jasa pengelolaan lembaga tersebut. Sebab, banyak hal yang perlu dibiayai oleh lembaga pendidikan, termasuk guru yang secara langsung memberikan pendidikan kepada anak.

Di sisi lain, tidak banyak orangtua yang mampu memberikan pendidikan secara komprehensif kepada anak-anaknya di rumah. Maka, jalan yang perlu ditempuh orangtua untuk memberikan pendidikan anak adalah dengan menyekolahkan di lembaga pendidikan.

Sejauh yang penulis tahu, di Indonesia tidak banyak lembaga sekolah gratis yang mampu memberikan pendidikan yang bagus bagi anak. Lembaga pendidikan yang tidak memungut bayaran, sering kali kurang berkualitas – untuk tidak menyebut tidak berkualitas sama sekali.

Karena pendidikan butuh uang, maka setiap orangtua harus menyiapkan uang yang cukup untuk pendidikan anak-anaknya. Dan lembaga pendidikan sering menuntut biaya besar di awal – dana pembangunan atau pengembangan pendidikan – ketika anak pertama kali masuk sekolah di sebuah lembaga pendidikan.

Jika orangtua punya tabungan yang cukup, ini tidak menjadi masalah. Tapi tidak semua orangtua memiliki uang tabungan yang cukup. Bagi orangtua yang bekerja sebagai karyawan, akan lebih mudah dan mampu kalau biaya pendidikan bisa dicicil.

Karena itu, banyak orangtua yang berusaha menyisihkan uang setiap bulannya untuk ditabung di bank. Tapi kenyataannya, hanya sedikit orangtua yang mampu mencapai target tabungan untuk biaya pendidikan anaknya.

Kenapa? Karena menabung di bank sering terganggu oleh rayuan gaya hidup (life style) yang setiap hari menerpa lewat berbagai media. Banyak iklan menarik menawarkan ini dan itu. Tak heran jika tabungan di bank terus menipis karena sering keluar melalui mesin ATM.

Memang betul, ada orangtua yang punya komitmen kuat menabung tanpa diambil demi pendidikan anak-anaknya. Iklan semenarik apa pun ia tolak, sebab menurutnya pendidikan anak adalah hal utama. Tapi apakah langkah itu bisa menjamin? Ternyata tidak juga. Karena ada gangguna lain berupa risiko sakit yang bisa saja menimpa para orangtua dalam perjalanannya menabung.

Jika seseorang mengalami sakit kritis, tentu proses menabung yang ia lakukan akan terhenti dengan sendirinya. Karena ia harus dirawat dan tidak lagi mampu bekerja. Kalau tidak lagi mampu bekerja, maka penghasilan akan berhenti sehingga ia tidak bisa lagi menabung – kecuali ia bekerja sebagai PNS atau pengusaha.

Lalu, apa yang sudah ia tabung pun pada akhirnya akan diambil juga untuk biaya berobat, sebab berobat pada kondisi tersebut lebih prioritas daripada biaya sekolah anak yang mungkin masih beberapa tahun lagi.

Akhirnya tabungan yang sudah terkumpul pun habis untuk biaya berobat, bahkan sangat mungkin masih kurang, karena biaya berobat untuk sakit kritis sangat mahal dan butuh waktu lama. Nah, dalam konteks sakit kritis, keuangan PNS dan pengusaha pun bisa bermasalah.

Selain sakit berat, proses menabung pun bisa saja berhenti dengan sendirinya karena kepala keluarga yang bekerja menghasilkan uang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Semua pasti meyakini bahwa meninggal adalah urusan Tuhan yang waktunya tidak diketahui oleh manusia mana pun.

Banyak orang yang menginginkan usianya panjang, tapi Tuhan menentukan sebaliknya. Karena itu, kita sebagai manusia hanya bisa pasrah menerima apa pun yang ditentukan-Nya.

Jika demikian, target tabungan untuk biaya sekolah anak pun sangat mungkin belum mencapai target, karena usia sudah tutup lebih cepat dari yang diperkirakan.

Nah, berdasarkan alasan-alasan inilah penulis ingin menyatakan bahwa asuransi adalah salah satu cara terbaik untuk menyiapkan atau lebih tepatnya mem-backup dana pendidikan anak.

Namun demikian, dalam konteks ini penulis tidak menyarankan mengambil produk asuransi pendidikan tradisional. Karena dana yang dicanangkan kecil dan tidak bisa diambil secara fleksibel serta premi yang harus disetorkan cukup besar.

Lalu, asuransi apa yang dimaksud dan bagaimana asuransi bisa menyiapkan dana pendidikan? Ini pertanyaan pentingnya.

Tepat. Asuransi yang harus diambil adalah produk unitlink dengan mengambil pertanggungan jiwa, sakit kritis (CI), kecelakaan (ADDB), dan cacat tetap total (TPD), dengan menambah top up investasi dalam preminya. Bagi yang peduli dengan konsep kehalalan produk, bisa mengambil program Asuransi Syariah, di Allianz namanya Tapro Allisya Protection Plus.

Untuk memrencanakan dana pendidikan, skema preminya menjadi separuh premi pokok dan separuh lagi top up investasi. Seraca ringkas tersaji dalam ilustrasi berikut.

Ilustrasi Ok

Yang dijadikan contoh di sini adalah laki-laki berusia 30 tahun, tidak merokok, dan bekerja di dalam ruangan, dengan asumsi cuti premi 10 tahun. Sebagai catatan, semakin tua usia, maka preminya akan semakin besar.

Berikut beberapa pilihan premi berdasarkan usia masuk dan jenis kelamin:

Usia

(tahun)

Premi Per Bulan

Uang Pertanggungan

Laki-laki

(juta)

Perempuan

(juta)

Meninggal

(juta)

Sakit

(juta)

Kecelakaan

(juta)

Cacat

(juta)

25

1,1

1

500

500

500

500

26-28

1,1

500

500

500

500

26-30

1,2

500

500

500

500

29-30

1,2

500

500

500

500

31-34

1,3

500

500

500

500

31-32

1,3

500

500

500

500

33-34

1,4

500

500

500

500

35

1,5

1,6

500

500

500

500

Keterangan: Asuransi Jiwa dicover s.d. usia nasabah 100 tahun; Sakit Kritis dicover s.d. usia nasabah 100 tahun; Kecelakaan dicover s.d. usia nasabah 64 tahun; dan Cacat Tetap Total dicover s.d. usia nasabah 64 tahun. Selain empat pertanggungan tersebut, dalam program ini juga disertakan payor (pembebasan premi jika nasabah mengalami risiko cacat tetap total atau sakit kritis).

Dengan skema ini, dana seorang kepala keluarga yang menanggung biaya pendidikan anak akan memiliki uang pertanggungan yang cukup besar kalau-kalau terjadi risiko meninggal, sakit kritis, kecelakaan, dan cacat tetap total.

Jika dalam proses menabung terjadi risiko sebagaimana disebutkan tadi, maka kepala keluarga akan merasa tenang karena ia telah menyiapkan uang pertanggungan yang cukup untuk risiko meninggal (berupa warisan dari asuransi jiwa), sakit kritis (uang tunai santunan sakit kritis), kecelakaan (uang tunai santunan kecelakaan berat), dan cacat tetap total (uang tunai santunan cacat tetap total yang diakibatkan oleh sakit kritis atau kecelakaan).

Karena itu, jika tulang punggung meninggal dunia, maka warisan dari asuransi jiwa itu bisa digunakan untuk dana pendidikan anak dan mungkin plus bekal untuk usaha istri. Lalu, jika terkena sakit kritis atau kecelakaan atau cacat tetap total, selain untuk berobat, dana santunannya bisa digunakan untuk mem-backup dana pendidikan anak. Ini perencanaan yang cukup ideal.

Selain itu, dana investasi yang ditanam dalam unitlink juga menjadi dana yang tersedia untuk pendidikan anak di masa mendatang. Meskipun jumlahnya tidak bisa ditentukan secara pasti, tapi berdasarkan tren, dalam jangka panjang unitlink tetap menguntungkan melebihi keuntungan yang diperoleh dari deposito.[]

Dede Sulaeman
Business Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA) – Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s