Mana Harus Didahulukan, Asuransi Orangtua atau Anak?

father

Gambar: livingzlife.org

Saya sering menemui banyak orang yang menginginkan asuransi untuk anaknya. Padahal ketika saya tanya, apakah ia sudah punya asuransi, rata-rata menjawab belum punya.

Ini hal yang wajar karena tidak ada orangtua yang tidak sayang anaknya, kecuali beberapa orangtua yang hati nuraninya sedang sakit. Dan, asuransi adalah salah satu wujud sayang orangtua kepada anaknya.

Dari fenomena tersebut, ada pertanyaan mendasar yang ingin saya bahas di sini: mana harus didahulukan, asuransi orangtua atau anak?

Pertanyaan ini mudah dijawab dan dijelaskan, walaupun mungkin sulit direalisasikan, terutama bagi orangtua yang ‘terlalu sayang’ kepada anaknya – yang mereka selalu mengatakan secara dramatis, “Biarlah saya susah dan menderita, asalkan anak-anak saya hidup senang dan bahagia.”

Tidak ada yang salah dalam pernyataan dramatis itu, bahkan itu kalimat yang sangat bagus dan heroik. Hanya saja dalam konteks ‘mana harus didahulukan, asuransi orangtua atau anak’, kalimat itu menjadi tidak tepat.

Saya punya ilustrasi begini. Sebelum pesawat lepas landas, di penerbangan komersil biasanya diumumkan panduan keselamatan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam penerbangan. Salah satu kejadiannya minim oksigen di dalam pesawat yang diakibatkan oleh tekanan udara terlalu besar.

Ketika oksigen minim, maka di atas masing-masing penumpang akan keluar masker oksigen. Masker ini harus dipasangkan oleh masing-masing penumpang untuk mengalirkan oksigen melalui masker tersebut.

Ada hal menarik, bagi orang dewasa yang membawa anak-anak, maka menurut panduannya, pasangkan terlebih dahulu orang dewasa, baru kemudian ia membantu memasangkan masker oksigen untuk anak yang ada di sebelahnya.

Orang dewasa harus didahulukan karena ketika ia telah menolong dirinya sendiri, ia akan menolong orang lain. Lain halnya ketika anak-anak didahulukan ditolong. Ketika anak sudah ditolong, ada kemungkinan orang dewasa yang ada di sebelahnya tidak bisa ditolong, karena anak terlalu lemah untuk menolong orang dewasa.

Karena itu, anak-anak akan kesulitan menolong orang dewasa, meskipun ia sudah dalam kondisi normal.

Di sini bisa disimpulkan: memberikan pertolongan kepada orang dewasa harus didahulukan daripada kepada anak-anak, karena ketika orang dewasa sudah tertolong, ia akan memberikan pertolongan kepada orang lain di sekitarnya termasuk anak-anak. Orang dewasa tentu lebih mampu memberikan pertolongan daripada anak-anak.

Demikian pula halnya dengan asuransi. Sebelum anak-anak dimasukkan dalam program asuransi, alangkah baiknya orangtua terlebih dahulu diasuransikan, terutama asuransi prioritas, yaitu asuransi jiwa, sakit kritis (CI), kecelakaan (ADDB), dan cacat tetap total (TPD) (baca juga: Pilih Proteksi yang Paling Prioritas).

Misalnya, seorang kepada keluarga mengambil program asuransi untuk dirinya sendiri. Istri dan anak-anaknya belum dimasukkan dalam program asuransi, karena pertimbangan anggaran yang tersedia.

Langkah ini dinilai tepat karena ketika terjadi risiko meninggal atau sakit kritis atau kecelakaan atau cacat, maka istri dan anak-anaknya masih bisa mencukupi kebutuhan hidup, karena ada nilai uang pertanggungan (UP) yang cukup dari asuransinya.

Lain halnya ketika asuransi anak didahulukan. Ketika terjadi risiko – meninggal atau sakit kritis atau kecelakaan atau cacat tetap total – kepada kepala keluarga, maka istri dan anak-anaknya akan kesulitan, sebab tidak ada uang santunan dari asuransi, karena yang diasuransikan anaknya, bukan si kepala keluarga.

Ada pertanyaan begini, “Tapi kan kalau risiko itu terjadi pada anak yang punya asuransi, uang pertanggungan juga akan keluar?” Betul. Uang pertanggungan akan keluar. Tapi andaikan anak tidak punya asuransi dan ia mengalami risiko, maka keluarga tidak terlalu terganggu ekonominya, karena masih ada kepala keluarga yang bekerja dan menghasilkan uang.

Memang idealnya, semua anggota keluarga mengambil asuransi supaya ter-backup keuangannya ketika terjadi risiko. Tapi tidak semua orang punya anggaran yang cukup untuk mengambil program asuransi seluruh anggota keluarga.

Karena itu, bagi keluarga yang punya anggaran untuk asuransi tidak terlalu banyak, ambillah asuransi untuk orangtua atau kepala keluarga terlebih dahulu. Nanti ketika anggaran untuk asuransi bertambah, ambillah asuransi untuk istri; jika anggaran bisa bertambah lagi, baru ambillah asuransi untuk anak.[]

 

Dede Sulaeman
Business Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Jiwa, Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mana Harus Didahulukan, Asuransi Orangtua atau Anak?

  1. Asep Sopyan berkata:

    Super sekali, Pak Dede. Setuju. Jika anggaran terbatas, asuransi utk orangtua harus didahulukan drpd asuransi utk anak.

  2. Ping balik: Rider Term Life: Asuransi Jiwa Tambahan yang Ekonomis | AGEN ASURANSI JIWA DAN KESEHATAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s