Apakah Asuransi Syariah dan Non Syariah Sama?

Asuransi Syariah dan Non SyariahSuatu waktu, usai mengikuti training produk asuransi di Allianz Tower, Jakarta, saya duduk-duduk di kantin dan mengobrol dengan seorang agen. Ia mengatakan, “Menurut saya asuransi syariah dan non syariah itu sama saja. Apa bedanya? Misalnya, unitlink syariah dan non syariah, sistem investasinya sama. Hitungan preminya tidak terlalu beda. Uang pertanggungannya pun begitu.”

Tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa asuransi syariah tidak ada bedanya dengan asuransi non syariah, seperti teman agen saya itu. Memang, bagi orang yang tidak terlalu menganggap penting hukum syariah (prinsip halal dan haram) terutama dari sisi manfaat pertanggungan tidak ada bedanya, meskipun di dalamnya ada prinsip dasar yang mempunyai perbedaan yang sangat penting.

Saya ingin membahas hal ini dengan berusaha memaparkannya sesuai dengan pengetahuan dan sudut pandang saya. Karena itu, saya membagi pembahasan ini dalam empat bagian.

Pertama, dari sisi pengelolaan dana. Dalam asuransi syariah, pengelolaan dana dari iuran peserta (nasabah) dipisah. Dalam hal ini antara dana perusahaan asuransi dengan dana peserta dikelolaan secara terpisah. Dana peserta, dipisah menjadi dana tabarru’ dengan dana tabungan/investasi. Di sini ada unsur dana yang berasal dari sejumlah orang/pihak (para peserta) yang dikelola untuk saling melindungi dan tolong menolong. Dengan konsep ini, maka asuransi syariah mampu menghapus tiga unsur haram dalam asuransi, yaitu gharar (ketidakpastian terhadap objek penjualan, waktu penyerahan, dan berapa lama harus membayar premi), riba (investasi pada premi dan uang pertanggungan), dan maysir (perjudian – ada pihak yang diuntungkan, ada pihak yang dirugikan). Baca juga: Perbedaan Asuransi Syariah dan Non Syariah

Kedua, dari sisi investasi. Dana investasi dalam produk unitlink syariah ditanam di instrumen investasi syariah yang terbebas dari unsur-unsur haram dalam transaksi keuangannya. Instrumen investasi syariah di Indonesia yang sudah ada dan menjadi outlet investasi bagi asuransi syariah. Sebagaimana dijelaskan Muhammad Syakir Sula (2004: 380) dalam buku Asuransi Syariah (Life and General), Konsep dan Operasional, yaitu: investasi ke bank-bank umum syariah, seperti Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM); investasi ke bank umum yang memiliki cabang syariah, seperti BNI Syariah, BRI Syariah, BII Syariah, Danamon Syariah, Bank IFI Syariah, Bukopin Syariah, dll.; investasi ke Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT); investasi langsung ke perusahaan-perusahaan yang tidak menjual barang-barang haram atau maksiat dengan sistem (akad) mudharabah, wakalah, dan wadi’ah; dan investasi ke lembaga keuangan syariah lainnya, seperti reksadana syariah, modal ventura syariah, leasing syariah, pegadaian syariah, obligasi syariah di Bursa Efek Jakarta (BEJ), koperasi syariah, dan sebagainya.

Ketiga, dari sisi pertanggungan jiwa. Dalam asuransi syariah, dari sisi pertanggungan jiwa ada perbedaannya dengan yang non syariah. Dalam asuransi syariah, semua kasus bunuh diri, tidak ditanggung secara permanen, karena bunuh diri merupakan sesuatu yang diharamkan dalam hukum syariah. Tapi umumnya asuransi non syariah kasus bunuh diri ditanggung, ketika usia polisnya sudah melewati usia 2 tahun. Sementara ketentuan lainnya mengenai pertanggungan jiwa, antara asuransi syariah dan non syariah, relatif sama.

Keempat, dari sisi akad. Dalam prinsip hukum fikih muammalah, akad merupakan konsep penting karena akad menentukan apakah sebuah transaksi itu sah atau tidak sah. Di dalam asuransi syariah akad yang diterapkan, yaitu akad tabarru’ dan akad tijarah (mudharabah, wakalah, syirkah, dll.) Sementara asuransi non syariah akadnya jual beli (tabaduli).

Begitulah beberapa uraian menyangkut asuransi syariah dan non syariah. Di sini saya tidak membicarakan mana di antara keduanya yang lebih baik. Asuransi mana yang lebih baik, tentu saja tergantung kepada siapa yang memutuskan pilihannya. Bagi yang merasa penting dengan prinsip hukum syariah atau prinsip halal-haram pada sebuah produk keuangan, silakan pilih asuransi syariah dengan pilihan viturnya. Sebaliknya bagi yang tidak terlalu menganggap penting konsep tersebut, silakan pilih yang non syariah. Yang terpenting, milikilah asuransi karena kita tidak tahu kapan risiko itu datang. Dan mengambil produk asuransi haruslah dari perusahaan yang telah bertahun-tahun terbukti besar, kuat, kredibel, dan baik pelayanannya. Sepengetahuan saya, salah satunya adalah PT Allianz Life Indonesia. Demikian.[]

Dede Sulaeman
Business Executive Allianz Star Network
Kontak: 08 5767 622 961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s