Orang Sekaliber Ustadz Abdul Somad Memang Tidak Butuh Asuransi

Ustadz Abdul Somad, Lc., M.A., kerap disingkat UAS atau Ustadz AS, adalah seorang ustadz yang tengah populer akhir-akhir ini. Beliau lulusan S1 di Mesir dan S2 di Maroko. Ceramahnya banyak direkam orang dan diviralkan di berbagai media sosial. Pembahasannya mudah dipahami orang-orang awam. Gaya ceramahnya cair dan banyak diseling humor-humor segar.

Berikut adalah satu cuplikan ceramah UAS ketika menjawab pertanyaan tentang hukum asuransi. Di bagian bawah saya akan menuliskan tanggapan.

Silakan disimak ceramahnya dulu.

Transkrip Ceramah

Apakah asuransi termasuk riba, Pak Ustadz?

Kata Fatawa Syekh Ali Jum’ah, mufti Mesir, masih hidup orangnya, asuransi tidak ada di zaman Nabi. Lalu karena tidak ada di zaman Nabi, ulama berijtihad. Lain kepala lain isinya.

Ada tiga pendapat ulama. Yang pertama, katanya asuransi itu halal. Kenapa halal? Di situ ada unsur ta’awun, tolong-menolong. Ibu seratus ribu, bapak seratus ribu, (yang lain ) seratus ribu, ketika terjadi kecelakaan, terkumpul duit yang banyak dan saya tertolong. Dilihat dari tolong-menolongnya, maka dia halal. Kata satu kelompok.

Kelompok yang satu mengatakan haram. Di mana letak haramnya? Saya masukkan duit seratus ribu, bisa dapat 10 juta. Padahal baru saja masuk semalam, langsung besoknya dapat 100 juta. Sedangkan kawan saya sudah 10 tahun memasukkan 100 ribu, gak dapat-dapat, karena tak ada kecelakaan dia. Saking bodohnya, dibuatnya kecelakaan sendiri, biar turun duit. Maka dia gambling, gharar. Kata ulama kelompok yang kedua, haram, karena di dalamnya ada gharar, gambling, judi, tidak pasti.

Kelompok yang ketiga, lihat dulu. Kalau yang mengelolanya itu perusahaan profit, maka haram. Tapi kalau nonprofit halal. Contoh nonprofit, Persatuan Pegawai Pemkot Batam membuat serikat tolong-menolong, kalau ada yang kecelakaan ditolong. Nonprofit. Hanya sedikit biaya administrasi untuk pegawai dan office boy, oke boleh. Tapi kalau ada profit, haram.

Jadi dua mengatakan haram, satu mengatakan boleh.

Ustadz pribadi? Saya condong kepada yang haram, maka saya tak masuk asuransi. Mobil ustadz tak pakai asuransi? Tidak. Jadi kalau kecelakaan? Bolak-balik kecelakaan, saya tanggung sendiri. Hati-hati pelan-pelan, ditabrak dari belakang. Masalah kecelakaan ini kita bertawakal kepada Allah, tapi tetap usaha.

Tanggapan

Di bagian awal, Ustadz AS menyebutkan ada tiga pendapat ulama tentang asuransi. Pendapat pertama menyebutkan halal, pendapat kedua menyebutkan haram, pendapat ketiga menyebutkan halal jika nonprofit dan haram jika profit.

Pak Ustadz sendiri condong kepada pendapat yang mengharamkan asuransi. Tentu ini pendapat yang sah-sah saja dan harus dihormati, walaupun dalam kesempatan yang singkat di atas, beliau tidak sempat menerangkan alasannya secara rinci.

Dan menurut saya, orang sekaliber UAS memang tidak butuh asuransi. Kenapa? Karena beliau punya ribuan bahkan jutaan murid di seluruh Indonesia dan dunia, yaitu mereka yang merasa tercerahkan oleh ceramah-ceramahnya. Para murid ini akan siap membantu kapan pun jika sesuatu terjadi pada beliau, tinggal diinformasikan saja.

Sebagaimana saya tulis di artikel “Apakah Asuransi Bisa Digantikan dengan Cara Lain?”, ada dua golongan orang yang tidak butuh asuransi.

Pertama, orang yang sangat kaya, sehingga kehilangan beberapa miliar saja tak akan mempengaruhi kekayaannya.

Kedua, orang yang banyak berjasa kepada banyak orang, sehingga dia mudah mendapatkan bantuan kapan saja dibutuhkan.

Tapi bagaimana dengan orang-orang biasa seperti kita? Saya, anda, para pembaca blog ini? Berapa banyak orang yang siap bantu jika tiba-tiba terjadi sesuatu pada kita?

Agar lebih konkret, saya coba ungkapkan dengan angka. Jika anda bertemu dokter untuk diperiksa mengenai kesehatan anda dan setelah itu dokter berkata: “anda harus siapkan minimal 500 juta”, siapa yang mau dan mampu membantu anda dengan segera?

Jika anda belum bisa membayangkannya, berarti anda sebaiknya ikut pendapat ulama yang mengatakan asuransi, dalam hal ini asuransi syariah, halal.

Siapa ulama yang mengatakan asuransi syariah halal? Banyak. Sebagian ada di Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan mereka telah mengeluarkan 4 fatwa tentang asuransi syariah. Silakan dibaca di “Fatwa MUI tentang Asuransi Syariah”.

Anda pun bisa mendengarkan ceramah pimpinan MUI, KH Ma’ruf Amin, di artikel “KH Ma’ruf Amin: Asuransi Allianz Syariah Bagian dari Produk yang Halal”.

Jadi, persoalan hukum asuransi ini merupakan masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) di kalangan para ulama. Setiap pendapat ada rujukannya. Kita boleh memilih pendapat mana pun yang cocok dengan kita, dan menurut kita lebih sesuai dengan kebutuhan kita di zaman modern ini.

Yang penting luruskan tujuan kita dalam berasuransi, yaitu sebagai suatu ikhtiar untuk melindungi uang atau harta benda yang kita miliki dari hal-hal tidak terduga yang dapat menghabiskannya. Bukan untuk mencari keuntungan.

Ikhtiar ini dilakukan bersama-sama dengan para peserta asuransi yang lain, sebagai wujud nyata tolong-menolong (ta’awun) yang tentunya sangat baik dalam ajaran Islam. Itulah makanya sebagian ulama menghalalkan asuransi, karena dalam asuransi itu ada ta’awun (tolong-menolong). Bahkan sebetulnya inti asuransi itu ialah tolong-menolong di antara sesama peserta.

Keuntungan dalam Asuransi

Terkait soal keuntungan atau profit, bagaimana dengan pendapat ulama yang mengatakan asuransi halal jika nonprofit dan haram jika profit?

Tentang soal ini, perlu dipertegas, siapa yang mendapatkan profit dari asuransi?

Yang pasti bukan peserta, karena peserta tidak boleh mencari profit atau keuntungan dari asuransi. Baik dalam asuransi syariah maupun konvensional, tujuan asuransi yang benar bagi peserta adalah mendapatkan perlindungan keuangan, bukan mencari keuntungan.

Peserta yang berasuransi dengan tujuan mencari keuntungan, dia akan kecewa jika tidak ada klaim. Dan supaya tidak rugi, bisa saja orang ini merekayasa suatu klaim. Misal, tidak sakit tapi pura-pura dirawat inap agar mendapatkan santunan asuransi. Perbuatan seperti ini tidak dibenarkan dalam asuransi.

Bagaimana jika yang mendapatkan profit itu adalah perusahaan? Kita tahu sekarang ini asuransi telah dijalankan sebagai bisnis, bukan lembaga nirlaba atau lembaga sosial.

Baiklah. Mari kita bandingkan dua jenis lembaga asuransi.

Pertama, lembaga asuransi sosial. Contoh: BPJS Kesehatan.

Kedua, lembaga asuransi komersial. Contoh: PT Asuransi Allianz Life Indonesia.

BPJS Kesehatan disebut asuransi sosial karena sebagian besar pesertanya adalah Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah, dan BPJS tetap menerima peserta baru walaupun peserta tersebut sudah sakit. Selain itu, faktanya setiap tahun BPJS ternyata defisit. Jadi, keuntungan bukan tujuan dari dibentuknya BPJS Kesehatan, melainkan tercapainya perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Karena BPJS adalah lembaga asuransi yang nonprofit, maka menurut pendapat ketiga dalam ceramah UAS, ikut BPJS Kesehatan mestinya halal.

Sedangkan perusahaan asuransi seperti Allianz memang dibentuk untuk mencari keuntungan. Apakah boleh mencari keuntungan? Apa larangannya?

Kita jangan lantas alergi dengan istilah keuntungan. Yang dilarang itu merugikan orang lain. Apakah ada yang dirugikan jika Allianz meraih keuntungan?

Coba tanya ke para nasabah, jika Allianz untung, apakah mereka rugi? Tidak sama sekali. Justru mereka berharap Allianz untung tiap tahun, supaya Allianz bisa tetap beroperasi di Indonesia, dan supaya jika mereka klaim uangnya ada. Kalau Allianz rugi, justru para nasabah khawatir, jangan-jangan klaim mereka tidak dibayar dan Allianz angkat kaki dari Indonesia.

Dalam hal ini, keuntungan untuk perusahaan asuransi bisa dianalogikan dengan hak ‘amilin (pengelola) dalam pengelolaan zakat. Pengelola zakat (juga infak dan sedekah) berhak atas bagian tertentu dari dana zakat. Coba anda pikir, lembaga ZIS seperti Dompet Dhuafa, Bazis, Lazis, mereka bisa beroperasi dengan dana dari mana? Tak lain dari sumbangan para donatur juga.

Akad antara para nasabah (peserta) asuransi syariah dengan perusahaan adalah wakalah bil ujrah, atau penyerahan wewenang dengan memberikan upah. Perusahaan asuransi sebagai pengelola bertugas mengelola dana nasabah, dan atas jasa tersebut mereka berhak mendapatkan upah. Sedangkan dana para nasabah tetap menjadi hak nasabah, yang akan dikeluarkan jika di antara nasabah ada yang mengalami musibah.

Jadi, keuntungan dalam asuransi hanyalah milik perusahaan sebagai suatu entitas bisnis. Keuntungan ini diperlukan supaya aktivitas ta’awun (tolong-menolong) di antara peserta bisa terus berlangsung.

Adapun peserta sendiri tidak boleh mengharapkan keuntungan dari asuransi, dan tidak boleh merasa rugi jika tidak pernah mendapatkan klaim. Justru harus bersyukur karena berarti dia baik-baik saja. Dana premi yang telah dibayarkan harus diikhlaskan untuk menolong para peserta lain yang mengalami musibah.

Demikian. [Artikel ini pernah dimuat di blog myallisya.com]

Silakan dibaca pula beberapa artikel yang relevan dengan topik ini:

Adapun produk asuransi syariah yang tersedia di Allianz ada dua:

  1. Tapro Allisya Protection Plus: asuransi jiwa jenis unit-link dengan manfaat lengkap: asuransi jiwa, rawat inap cashless, rawat inap reimburse, penyakit kritis, kecelakaan/cacat, dan pembebasan premi.
  2. Allisya Care: asuransi kesehatan rawat inap cashless, murni tanpa investasi.

Untuk berdiskusi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan [Business Partner]

HP/WA 082111650732 | myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Iklan

Tentang Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s