Rahasia Supaya Orang Biasa Menjadi Kaya

Dalam artikel yang lalu, saya menulis tajuk, “Rahasia Supaya Orang Kaya Tidak Bangkrut.” Masih tersambung dengan artikel itu, kali ini saya menulis rahasia orang biasa-biasa saja yang sedang membangun bisnis, supaya berhasil dan menjadi kaya.

Banyak orang mengatakan, bekerja keras dan menabung adalah pangkal kesuksesan keuangan. Karena itu, banyak orang percaya bahwa hemat dan bekerja keras merupakan pangkal kaya sekaligus menjadi akar dari sukses keuangan.

Kalau bicara tabungan, mereka lebih suka deposito, sebaliknya tidak berani membeli equity fund (saham) karena risiko keuangannya tinggi. Mereka paling suka sesuatu yang aman dan stabil. Karena itu, selain deposito, mereka juga suka dengan properti. Mereka mulai menyisihkan gajinya untuk membeli properti, bahkan mereka rela membayar bunga pinjaman bank.

Apakah yang dilakukan itu salah? Sama sekali tidak. Tapi apa yang mereka lakukan sudah tepat? Jawabnya belum tepat. Karena untuk mencapai sukses besar dalam keuangan atau dalam hal ini menjadi kaya, seseorang harus membangun aset bisnis.

Lalu apa itu bisnis? Perlu diperhatikan bahwa bisnis tidak sama dengan usaha. Membuka usaha toko bukanlah bisnis, jika ia tidak menerapkan sistem di dalamnya seperti yang dilakukan Alfamaret, Indomaret, atau waralaba lainnya.

Sehingga tidak heran, ketika banyak orang yang melakukan usaha, tapi tidak kunjung menjadi kaya. Karena mereka lupa menerapkan sistem di dalam usaha yang dijalankannya. Karena sistem membuat orang dan uang bekerja untuk pemilik bisnis tersebut.

Apakah cukup sampai di situ? Tidak. Karena, sebagaimana dikatakan para perencana keuangan, bicara tentang orang di dalam bisnis kita akan menyinggung masalah kepemimpinan (leadership). Karena itu, leadership menjadi kata kunci setelah sistem di dalam bisnis.

Maka, bisnis = sistem + leadership. Dan untuk menunjangnya keuntungan bisnis perlu diinvestasikan ke dalam saham (equity fund). Karena saham mempunyai kinerja keuntungan yang cukup baik dalam jangka panjang.

Jadi, kenapa orang biasa tetap biasa dan pas-pasan, padahal sudah melakukan banyak usaha? Jawabnya, karena mereka lupa membangun bisnis. Atau mereka membangun usaha, tapi lupa membangun sistem. Atau mereka mencoba membuat sistem, tapi lupa membangun leadership di dalam dirinya. Inilah rahasianya, mengapa orang yang biasa, tetap hidup biasa saja.

Lalu apa yang harus dilakukan? Langkahnya adalah dengan mulai membangun fondasi keuangan dengan membangun bisnis (menerapkan sistem dalam usaha dan membangun leadership dalam memimpin usahanya), juga mengalihkan sebagian keuntungan untuk membeli saham.

Apakah dengan sistem dan leadership dan ditunjang dengan investasi saham bisnis akan sukses? Secara teoretis ya. Mungkin saja ada faktor lain yang menghadang seorang pengusaha yang menerapkan sistem dan leadership dalam bisnisnya. Tapi, faktor-faktor yang mendasar ini telah dibuktikan banyak pebisnis bahwa sistem, leadership, dan saham adalah kunci sukses bisnis.

Setelah membangun bisnis sukses, apakah sudah cukup? Belum cukup. Karena seorang pebisnis perlu mengantisipasi kemungkinan buruk yang bisa merongrong aset bisnis yang sudah dibangun itu dengan membangun aset lainnya. Aset ini dibangun dengan tujuan mem-backup bisnis yang sudah berjalan dan berkembang itu.

Dalam buku Financial Revolution in Action, Tung Dasem Waringin – Pelatih Sukses No. 1 Indonesia – dengan mengutip teori Robert T. Kiyosaki menjelaskan, aset adalah apa pun yang menyebabkan uang masuk ke dalam kantong Anda (Waringin dan Hojanto, 2015: 111).

Perhatikan ini! Kalau kita membeli sebuah mobil secara kredit, lalu mobil itu malah menimbulkan utang yang harus dibayar setiap bulan dan sama sekali tak menghasilkan uang, maka jelas mobil itu bukanlah aset. Apa itu? Waringin (2015) menjelaskan, apa pun yang menyebabkan uang keluar dari kantong, ialah liabilitas.

Tapi, jika mobil itu digunakan untuk urusan bisnis yang menghasilkan uang, sehingga beban utang dari pembelian kredit mobil itu mampu ditutup dengan penghasilan dari mobil itu, bahkan memperoleh surplus keuntungan, maka jelas mobil itu menjadi sebuah aset. Begitupun dengan barang-barang yang kita beli lainnya. Kata kuncinya: sebuah barang itu menyebabkan uang keluar (liabilitas) atau masuk kantong (aset)?!

Dengan mempertimbangkan definisi aset tersebut, seorang yang sedang membangun bisnis harus membangun aset berupa properti dan menyimpan uang dalam skema deposito (many market fund).

Mengapa properti? Karena meskipun pembeliannya dapat menimbulkan utang (jika dibeli secara kredit), setiap tahun harga properti cenderung naik, sehingga mampu mengimbangi inflasi. Demikian pula dengan deposito, keuntungannya cukup mampu mengimbangi inflasi. Sehingga kedua aset ini, akan bisa diandalkan ketika bisnis sedang goyah dan membutuhkan suntikan dana segar.

Lalu, apakah sudah cukup dengan backup dua aset itu? Seperti yang sudah saya jelaskan dalam artikel sebelumnya, seorang pebisnis – yang lama maupun pendatang baru – harus menyiapkan backup keuangan lain untuk mengantisipasi sebuah risiko yang akan mengganggu bisnis dan sistem keuangannya.

Bisa saja seorang pemilik bisnis ini terkena sakit kritis yang memerlukan biaya pengobatan cukup besar, bahkan sangat besar. Jika menyebut angka, biaya pengobatan sakit kritis ini bisa ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah, tergantung jenis penyakit dan kondisi sakitnya.

Kalau secara kebetulan kita punya kenalan dokter atau singgah di rumah sakit yang khusus menangani penyakit jantung atau kanker, coba tanyakan berapa kira-kira biaya pengobatan sakit kritis semcam itu? Dan berapa lama pengobatannya?

Jelas sakit kritis yang menjadi risiko hidup siapa pun, termasuk sang pemilik bisnis akan menyedot keuangan besar sehingga sangat mungkin dapat meruntuhkan aset bisnis yang sudah dibangun, bahkan sebelum bisnis itu benar-benar besar.

Jadi, sangat mungkin orang biasa yang sudah membangun bisnis dengan sukses, kemudian menjadi kesulitan atau bahkan bisnisnya runtuh kembali karena dua sebab, yaitu tidak menyiapkan aset backup (properti dan deposito) dan tidak pula menyiapkan asuransi sakit kritis.

Satu kalimat yang sempurna untuk menggambarkan ini adalah ‘seumpama seseorang membangun rumah di atas pasir’. Ketika risiko hujan dan badai dan banjir tiba-tiba datang, rumah itu akan ambruk dengan cepat, lalu tenggelam tak tersisa.

Inilah satu alasan mendasar mengapa di negara-negara maju setiap orang memiliki polis asuransi, bahkan setiap orang rata-rata memiliki 6 polis asuransi. Tujuan mereka adalah mem-backup aset atau bisnis yang dibangunnya (bagi pebisnis) dan sebagai backup uang tabungan dan aset yang sudah dikumpulkannya (bagi pegawai atau karyawan).

Karena itu, penting bagi seorang pebisnis pendatang baru untuk menyiapkan proteksi asuransi sakit kritis dengan uang pertanggungan minimal 1 miliar, karena sakit kritis mempunyai dampak keuangan yang besar.

Selain asuransi sakit kritis, asuransi lain yang wajib diambil dengan uang pertanggungan minimal 1 miliar adalah asuransi jiwa. Ini penting, karena selain sebagai warisan bagi keluarga yang dicintai pemilik bisnis, uang pertanggungan jiwa yang besar juga bisa dijadikan backup untuk melunasi utang, kalau-kalau ada utang yang harus dilunasi sepeninggal sang pemilik bisnis ini.

Di sini, saya kembali menyimpulkan, bahwa ada tiga kata kunci keuangan dalam sebuah bisnis: aset bisnis (sistem dan leadership) + aset equity fund (saham); properti dan many market fund (deposito), dan asuransi (warisan minimal 1 miliar dan proteksi sakit kritis minimal 1 miliar).

Inilah rahasia keuangan dalam sebuah bisnis yang dijalankan yang menjadi jawaban dari ‘rahasia supaya orang yang biasa saja menjadi kaya’.

Dari penjelasan-penjelasan itu, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa ada empat hal yang sangat penting untuk membangun bisnis yang sukses, yaitu warisan, proteksi, saham, dan deposito.

Mungkin kita berpikir, untuk menyiapkan empat hal tersebut akan sangat repot karena harus memperolehnya di empat lembaga keuangan yang berbeda. Tapi ternyata tidak. Kita tidak akan repot, karena keempat hal itu ada dalam satu produk asuransi, yaitu tabungan dan proteksi (Tapro) Allianz. Detail penjelasan Tapro Allianz beserta ilustrasinya, (sekali lagi) dapat dilihat dalam artikel Rahasia Supaya Orang Kaya Tidak Bangkrut.

Dengan demikian, menjadi langkah bijak bagi pebisnis baru – yang saya sebut sebagai orang biasa yang akan menjadi luar biasa – untuk memiliki aset Tapro (warisan 1 miliar + proteksi 1 miliar + saldo saham dan deposito) dan aset properti yang dibeli secara terpisah. Karena semua ini akan mampu mem-backup bisnis yang sedang dibangunnya.

Segera hubungi agen asuransi Allianz terpercaya untuk mengkonsultasikan ini.[]

(Artikel ini diolah dari kurikulum training bisnis ASN – busster.net)

Layanan konsultasi asuransi GRATIS dapat menghubungi kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta, Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sekitarnya.

Dede Sulaeman (Business Executive Allianz Star Network)

Kontak: 085767622961 (Tlp/WA) – Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Perencanaan Keuangan dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s