Sisihkan Uang Rokok untuk Menabung di Tapro

Roko dan UangDi pertengahan tahun ini saya melakukan penelitian untuk tugas akhir program Magister Ilmu Komunikasi di salah satu universitas, di Jakarta. Penelitian saya mengenai program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan rokok. Secara spesifik saya mengkaji program Sekolah Kejuruan yang dijalankan oleh lembaga CSR salah satu perusahaan rokok di Indonesia.

Perusahaan rokok yang banyak mengalami penentangan dari banyak kalangan – lembaga internasional dan lokal, semisal WHO, LSM-LSM Anti Rokok, Lembaga Profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Lembaga Keagamaan, MUI, dan lembaga-lembaga lain yang secara masif mendeklarasikan dan melakukan gerakan-gerakan anti rokok.

Di tengah banyaknya penentangan itu, program CSR menjadi salah cara yang dinilai efektif untuk memertahankan eksistensi perusahaan rokok, terutama di daerah tempat pabrik rokok itu berdiri dan mengoperasikan produksi rokoknya. Inilah yang dilakukan salah satu perusahaan rokok yang saya teliti. Lembaga CSR mereka menjalankan satu program Sekolah Kejuruan yang bersertifikasi Internasional dengan jaminan upah kerja yang besar setelah lulus.

Hasil penelitian menjelaskan bahwa Sekolah Kejuruan yang dijalankan oleh CSR perusahaan rokok ini merupakan program CSR yang unggul, tidak mudah ditiru, dan berhasil mencapai tahap sustaining survival. Komunikasi program Sekolah Kejuruan juga dilakukan dengan efektif dan efisien. Pendekatan komunikasi tersebut mampu menguatkan posisi strategis lembaga CSR tersebut di level nasional dan internasional.

Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Jurnal Wacana Vol 16, No 2 (2017) yang bisa diakses di SINI.

Yang menarik dari penelitian itu adalah upaya dan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga CSR tersebut. Program yang dijalankan dengan standar internasional tentu membutuhkan biaya yang sangat besar dan upaya yang keras dengan dukungan SDM yang berkualitas. Artinya, perusahaan rokok berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk menunjang bisnis rokoknya.

Selain program CSR, sebagaimana telah dimafhum, perusahaan rokok juga melakukan promosi-promosi secara besar-besaran di berbagai media dan even. Dengan itu semua rokok masih menjadi barang favorit yang dicintai sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia.

Menilik data konsumsi rokok, ternyata memang betul, jumlah perokok di Indonesia masih cukup tinggi. Persentase tertinggi penduduk usia 5 tahun ke atas yang merokok setiap hari dalam sebulan terakhir menurut kelompok umur adalah 35-39 tahun, yakni mencapai 32,73%. Diikuti kelompok umur 30-34 tahun mencapai 32,34%. Dan ternyata penduduk dengan kelompok umur di atas 60 tahun persentasenya masih cukup tinggi, yaitu 23,31%.

Dampak konsumsi rokok di masyarakat Indonesia cukup mengejutkan. Bagaimana tidak? Sebagaimana dilansir KataData (22/08/2016), Rokok, menjadi salah satu komoditi penyumbang garis kemiskinan di Indonesia. Survei Sosial Ekonomi Nasional Maret 2016, menempatkan rokok dalam urutan kedua jenis pengeluaran makanan setelah belanja beras.

Di perkotaan, proporsi masyarakat untuk pengeluaran rokok ini mencapai 9% dari total pengeluaran. Sedangkan di desa, belanja rokok tetap di urutan kedua namun dengan proporsi lebih rendah yakni 7,96%.

Nilai belanja rokok ini lebih besar dibanding pengeluaran lain untuk membeli telur dan biaya listrik yang masing-masing hanya di kisaran 3 dan 2 persen. Bahkan untuk masyarakat pedesaan, pengeluaran rokok ini lebih tinggi dibanding persentase pengeluaran untuk biaya perumahan yang hanya 7,6%.

Tabel Konsumsi Rokok di Perkotaan

rokok-penyumbang-kemiskinan-di-indonesia-by-katadata

 

(Sumber: KataData, 22/08/2016)

Sementara itu, jumlah perokok di Indonesia dengan umur lebih dari 10 tahun paling tinggi terdapat di provinsi Jawa Barat. Proporsi perokok terhadap jumlah penduduk mencapai 32,7% dengan komposisi perokok aktif setiap hari sebesar 27% dan perokok kadang-kadang 5,6%. Kemudian diikuti oleh provinsi Gorontalo (32,3%), Maluku Utara (31,9%), Lampung dan Banten (31,3%) secara berturut-turut. (KataData, 23/08/2016)

Tabel Jumlah Perokok Menurut Provinsi

provinsi-mana-dengan-jumlah-perokok-terbanyak-by-katadata

(Sumber: KataData, 23/08/2016)

Lalu, menurut survei nasional terhadap perilaku merokok masyarakat menyajikan data rata-rata konsumsi rokok per orang per hari secara nasional adalah 12,3 batang rokok (setara dengan satu bungkus rokok).

Rerata konsumsi paling tinggi ditemukan di wilayah Bangka Belitung (18 batang) dan di Riau 16-17 batang. Terendah di Yogyakarta dengan jumlah hanya 9,9 batang per hari per orang.

Survei yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan ini melibatkan penduduk dengan umur lebih dari 10 tahun. Dalam laporan tersebut dipaparkan bahwa perilaku merokok penduduk 15 tahun ke atas masih belum terjadi penurunan. Proporsinya secara tahunan bahkan meningkat dari 34,2% pada 2007 menjadi 36,3% pada 2013. (KataData, 22/08/2016)

Tabel Provinsi Pecandu Rokok

provinsi-pecandu-rokok-terberat-by-katadata

 

(Sumber: KataData, 22/08/2016)

Potensi Aset dari Belanja Rokok

Kita berandai-andai, berapa jumlah uang yang bisa dikumpulkan kalau orang berhenti merokok? Melihat data di atas, kita bisa menghitung berapa bungkus rokok yang dihabiskan oleh satu orang dalam sehari dan berapa harga per bungkusnya.

Berdasarkan data, rata-rata konsumsi rokok per orang per hari secara nasional adalah 12,3 batang rokok yang setara dengan satu bungkus rokok.

Artinya, rata-rata orang mengkonsumsi rokok, per hari satu bungkus rokok. Merujuk rokok yang dijual eceran di toko waralaba, diketahui bahwa harganya berkisar 17 – 20 ribu rupiah per bungkus. Katakanlah kita gunakan harga Rp 20 ribu per bungkus.

Mari kita lihat data DKI Jakarta. Jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2016 tumbuh 1,13% menjadi 10,27 juta jiwa. Jika melihat data, jumlah perokok di DKI Jakarta 29,2% (KataData, 23/08/2016), maka ada sekitar 2.998.840 orang yang merokok di DKI Jakarta.

Berapa uang yang dibelanjakan setiap hari untuk konsumsi rokok oleh hampir 3 jutaan orang tersebut? Kita bisa menghitung, 2.998.840 x Rp 20 ribu = Rp 59.976.800.000. Artinya, setiap hari para perokok di DKI Jakarta mengeluarkan uang sekitar 60 miliar untuk konsumsi rokok. Kalau sebulan berapa? Kalau setahun berapa? Kita bisa menghitungnya.

Dengan dana sebesar itu, seharusnya penduduk Jakarta yang perokok (29,2%) itu bisa membangun fasilitas publik yang bermanfaat setiap tahun atau memberdayakan masyarakat yang masih miskin di Jakarta dengan mengembangkan ekonomi kecil dan menengah, juga industri kreatif bagi anak-anak muda.

Itu baru di DKI Jakarta. Bagaimana dengan provinsi-provinsi lain? Tentu, hasilnya akan sangat luar biasa!

Dengan Uang Belanja Rokok, Banyak Orang Bisa Mengumpulkan Uang

Dalam konteks perorangan, para perokok yang jumlahnya besar itu bisa menabung dengan menyisihkan anggaran belanja rokok sebesar Rp 20 ribu setiap hari.

Saya pernah mengatakan gagasan ini pada seorang teman yang perokok dan dia langsung mengatakan, “Tunggu dulu! Saya harus berhenti merokok?! No, no, no! Berat, Bos, berat!”

“Baiklah! Kalau setengahnya bisa tidak?”

“Nah, kalau setengah bisa, lah!”

“Bagus. Anda beli sebungkus rokok untuk dua hari. Sanggup?”

Walaupun terlihat ragu, teman saya mengangguk.

Nah, mari kita ikuti terlebih dahulu kesanggupan perokok seperti teman saya ini. Karena saya yakin, dia mewakili banyak orang yang merokok.

Kita bisa mulai menyisihkan anggaran rokok untuk ditabung atau ditukar (dibelikan) sesuatu yang lebih bermanfaat. Bahkan, ada sesuatu yang sangat bermanfaat yang bisa dibeli dengan separuh uang harian untuk belanja rokok. Mengenai ini saya akan menjelaskannya lebih lanjut di bagian akhir tulisan ini.

Jika setiap hari kita menyisihkan uang sebesar Rp 10 ribu untuk disimpan, maka dalam setahun kita bisa mengumpulkan uang Rp 3,6 juta dan sebulan Rp 300 ribu (dengan asumsi jumlah hari dalam satu bulan rata-rata 30 hari).

Kalau melihat jumlahnya, mungkin kita akan mengatakan, “Yah, cuma tiga juta setengah setahun. Apalagi sebulan. Uang segitu tak ada artinya sekarang. Buat mentraktir baso teman-teman kantor saja habis. Atau buat nonton berdua saja langsung habis!”

Inilah yang ingin saya katakan. Ada satu produk jasa keuangan yang nilainya bisa ratusan juta jika ditukar dengan uang yang dianggap kecil itu. Atau dalam hal ini kita menabung dengan cara yang lain.

ARTIKEL TERKAIT

Tapro, Cara Menabung Pintar

Tempat yang saya maksud sebagai menabung dengan cara yang lain, yaitu tabungan dan proteksi (Tapro). Tapro adalah produk asuransi jenis unit link yang menggabungkan antara asuransi (proteksi) dan investasi. Karena produk ini adalah dasarnya asuransi atau proteksi berupa perlindungan teradap risiko hidup, maka mari kita fokus saja kepada proteksi atau asuransinya.

Jadi, berapa nilai proteksi (uang pertanggungan) yang bisa diperoleh dengan uang Rp 300 ribu per bulan dan apa saja proteksi yang bisa didapat?

Untuk anggaran Rp 300 ribu per bulan, perlindungan yang bisa didapat, yaitu asuransi jiwa (sebagai warisan untuk keluarga yang dicintai), asuransi penyakit kritis, dan payor (auto-saving/ pembebasan premi).

Saya ilustrasikan, seorang laki-laki perokok (merujuk pada kesanggupan teman saya, sekarang hanya setengah bungkus per hari), usia 25 tahun, bekerja di ruangan, sehat, dan tidak over weight. Mari kita lihat ilustrasinya:

Bapak Bijak 2

Besaran Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi:

Manfaat Proteksi Uang Pertanggungan Ringkasan Manfaat
Asuransi Jiwa Rp 200 juta Bila pihak yang diasuransikan hidup sampai usia 100 tahun, manfaat yang dibayarkan adalah sebesar Nilai Investasi. Bila pihak yang diasuransikan meninggal dunia sebelum mencapai usia 100 tahun, manfaat yang dibayarkan adalah Nilai Investasi + 100% UP.
Asuransi Penyakit Kritis (CI100 Syariah) Rp 200 juta Manfaat akan dibayarkan sesuai ketentuan pada Polis bila Tertanggung pertama kali terdiagnosa/ menderita salah satu dari 100 Kondisi Penyakit Kritis (Critical Illness) sampai dengan Tertanggung mencapai usia 100 tahun. Mengingat risiko dari gaya hidup merokok, tampaknya perokok sangat penting untuk mengambil Asuransi Penyakit Kritis ini.
Payor B. Basic Auto Saving (Pembebasan Premi) Pembebasan Premi Berkala jika Pembayar Premi terdiagnosa salah satu dari 49 Penyakit Kritis atau cacat tetap total (TPD) dan Allianz membayarkan sebesar Premi Berkala tsb s.d. usia Pembayar Premi mencapai 65 tahun.
Payot B. TUPR Auto Saving (Pembebasan Premi) Pembebasan Top Up Berkala jika Pembayar Premi terdiagnosa salah satu dari 49 Penyakit Kritis atau TPD dan Allianz membayarkan sebesar Top Up Berkala tsb s.d. usia Pembayar Premi mencapai 65 tahun.

Demikian. Untuk konsultasi Tapro Allianz Syariah atau Non Syariah (konvensional) bisa hubungi agen resmi Allianz.

Layanan konsultasi asuransi GRATIS dapat menghubungi kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta, Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sekitarnya.

Dede Sulaeman (Business Executive Allianz Star Network)

Kontak: 085767622961 (Tlp/WA) – Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Asuransi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s