Tabarru’, Dana Kebajikan untuk Saling Menolong

Akad Tabarru - Gambar“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 2)

Di dalam asuransi syariah ada komponen dana yang berasal dari premi para peserta (nasabah) yang pengelolaannya diatur tersendiri yang disebut dana tabarru’. Dalam asuransi non syariah ia disebut Cost Of Insurance (COI) atau biaya asuransi. Dana tabarru’ dikelola sebagai dana kebajikan untuk saling tolong di antara para peserta.

Jika dibedah dalam asuransi unit link, misalnya, ada komponen-komponen biaya yang diambil dari premi asuransi yang disetorkan nasabah, yaitu biaya akuisisi, biaya asuransi (COI/tabarru’), dan biaya administrasi. Penjelasan mengenai ini bisa dibaca di SINI.

Dalam akad tabarru’ ketika menandatangani polis asuransi syariah, para peserta berniat menghibahkan dana tabarru’ yang berasal dari setoran preminya untuk hibah yang akan diberikan secara kolektif kepada peserta lain yang mengalami musibah (risiko hidup yang ditanggung asuransi, berdasarkan ketentuan kontrak polis asuransi).

Karena itu, terhadap dana tabarru’ yang telah disetorkan, para peserta harus menyertakan unsur ikhlas di dalam akad tabarru’-nya. Sebagaimana telah jelaskan Asep Sopyan (myallisya.com) bahwa salah satu cara untuk ikhlas menghibahkan dana tabarru’ asuransi adalah dengan menetapkan tujuan berasuransi yang benar.

Apa tujuan yang benar ikut asuransi? Yaitu proteksi atau perlindungan keuangan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, yang waktunya tidak dapat diprediksi, dan kita akan merasa berat jika harus menanggungnya sendirian. Dengan ikut asuransi, kejadian-kejadian yang memberatkan keuangan itu ditanggung secara bersama-sama sehingga menjadi lebih ringan. (Lihat “Ikut Asuransi Harus Ikhlas,” Asep Sopyan, 29 Desember 2017).

Dalam artikel itu, bahkan Sopyan mengatakan konsep ikhlas dalam berasuransi, tidak hanya terbatas pada asuransi syariah, tapi juga asuransi non syariah. Karena tolong-menolong adalah konsep kebaikan di antara sesama manusia yang sifatnya universal; tidak memandang suku, agama, bangsa, dll.

Sebagaimana kalau kita melihat pengendara yang jatuh di jalan. Kita akan langsung menolong tanpa bertanya terlebih dahulu apa agamanya atau dari suku mana dia? Keinginan untuk saling-menolong tanpaknya sudah lahir ketika manusia itu sendiri lahir pertama kali. Dan, berasuransi dengan niat untuk saling-tolong menolong adalah tindakan yang selaras dengan fitrah manusia sejak lahir.

Kembali kepada dana tabarru’ dalam asuransi syariah. Berdasarkan pandangan ulama yang dikutip Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam merumuskan fatwa mengenai tabarru’, dijelaskan bahwa sejumlah dana (premi) yang diberikan oleh peserta asuransi adalah tabarru’ (amal kebajikan) dari peserta kepada (melalui) perusahaan yang digunakan untuk membantu peserta yang memerlukan berdasarkan ketentuan yang telah disepakati; dan perusahaan memberikannya (kepada peserta) sebagai tabarru’ atau hibah murni tanpa imbalan. (Wahbah al-Zuhaili, al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, Dimasyq: Dar al-Fikr, 2002: 287).

Dari kutipan tersebut, jelaslah bahwa dana tabarru’ diperoleh dari sejumlah premi asuransi yang disetor para peserta yang dititip-kelolakan kepada perusahaan asuransi untuk membantu peserta yang membutuhkan (karena terkena musibah, misalnya sakit atau meninggal dunia).

Menjadi jelas kiranya, dana tabarru’ adalah dana kebajikan berupa hibah yang diniatkan sejak awal – pertama kali peserta asuransi menandatangani kontrak asuransi – yang akan digunakan untuk menolong di antara peserta asuransi yang terkena risiko atau musibah yang ditetapkan berdasarkan ketentuan polis yang berlaku.

Oleh karena itu, dalam konteks asuransi syariah, ada yang disebut akad tabarru’. Akad tabarru’ adalah hubungan hukum yang timbul di antara para peserta asuransi sebagai akibat akad asuransi kolektif (ta’min jama’i).

Seorang ulama, Ahmad Salim Milhim dalam kitab al-Ta’min al-Islami, sebagaimana dikutip DSN MUI dalam merumuskan fatwa tentang Akad Tabarru’ pada Asuransi Syariah, menjelaskan bahwa setiap peserta adalah pemberi dana tabarru’ kepada peserta lain yang terkena musibah berupa ganti rugi (bantuan, klaim) yang menjadi haknya; dan pada saat yang sama ia pun berhak menerima dana tabarru’ ketika terkena musibah (Ahmad Salim Milhim, al-Ta’min al-Islami, h. 83).

Mengenai Fatwa Dewan Syariah Nasional No: 53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada Asuransi Syariah, secara lengkap bisa diunduh di SINI.

ARTIKEL TERKAIT

Dari penjelasan tersebut, apa yang bisa kita simpulkan?

Pertama, dana tabarru’ adalah dana yang berasal dari premi para peserta asuransi syariah yang dikumpulkan secara kolektif.

Kedua, dana tabarru’ merupakan dana yang diniatkan sejak awal sebagai hibah yang akan digunakan untuk saling tolong di antara peserta yang terkena musibah.

Ketiga, karena ada asuransi kolektif (ta’min jama’i), maka timbul sebuah hubungan hukum di antara para peserta asuransi, yaitu Akad Tabarru’.[]

Untuk layanan konsultasi asuransi syariah secara GRATIS dapat menghubungi kami, Agen Asuransi Allianz di Jakarta, Bekasi, Cikarang, Karawang, dan sekitarnya.

Dede Sulaeman (Business Executive Allianz Star Network)

Kontak: 085767622961 (Tlp/WA) – Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s